CEGAH KUTIL KELAMIN DENGAN KONDOM DAN VAKSIN HPV

Masih banyak orang yang menganggap remeh kutil kelamin atau genital warts. Mereka pikir ini seperti kutil di bagian tubuh lain yang tidak berbahaya. Padahal, jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kutil kelamin bisa bertransformasi menjadi kanker serviks!

Sebagai bentuk edukasi, Klinik Pramudia mengadakan virtual media briefing bertema "Kupas Tuntas Genital Warts pada Perempuan" yang dihelat pada Rabu (15/6/2022).

Pembicara dalam acara ini adalah dr. Amelia Setiawati Soebyanto, SpDV, dokter spesialis kulit kelamin, dan dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, CEO Klinik Pramudia. Mari simak bersama!

 

1. Lebih banyak dialami perempuan

Berdasarkan data tahun 2007-2011 yang dihimpun dari 12 rumah sakit pendidikan, kutil kelamin menduduki peringkat tiga besar dari keseluruhan kasus infeksi menular seksual (IMS). Pengidap terbanyak adalah perempuan usia 25–45 tahun dengan persentase 62,5 persen.

Kutil kelamin memiliki banyak julukan. Mulai dari "jengger ayam", kondiloma akuminata, hingga anogenital warts. Penyebabnya adalah infeksi human papillomavirus (HPV) risiko rendah, yaitu tipe 6 dan 11. Hampir 90–95 persen kasus disebabkan oleh virus tipe ini.

Akan tetapi, sebagian kecil kasus disebabkan oleh virus HPV risiko tinggi, seperti tipe 16, 18, 31, 33, dan lainnya. Kutil kelamin yang disebabkan oleh virus HPV risiko tinggi bisa bertransformasi menjadi suatu keganasan, seperti kanker serviks.

 

2. Yang paling berisiko adalah orang yang bergonta-ganti pasangan seksual

Dokter Amelia mengatakan bahwa perempuan di dunia yang terkena kutil kelamin mencapai 120,5 orang per 100.000 penduduk. Ini adalah data tahun 2001 hingga 2012. Sayangnya, data di Indonesia belum ada.

Yang paling berisiko mengalami penyakit kutil kelamin antara lain:

  • Perempuan.
  • Aktif secara seksual.
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
  • Tidak menggunakan pelindung atau kondom.
  • Mempunyai riwayat penyakit menular seksual sebelumnya, seperti gonore atau kencing nanah, sifilis, dan lainnya.
  • Memiliki status imun yang lemah, seperti penderita HIV.
  • Sering mengonsumsi alkohol.
  • Merokok.
  • Memiliki riwayat transplantasi organ.

 

3. Kutil bisa tumbuh di area kewanitaan hingga dubur

Kutil kelamin paling sering ditularkan melalui kontak seksual. Bisa dari genital ke genital, anal, dan oral. Bahkan, gesekan antara kulit ke selaput lendir pun bisa!

"Selain itu, bisa ditularkan dari ibu ke anak. Terutama yang melahirkan secara normal atau pervaginam. Itu mungkin mengenai bayi ketika keluar dari jalan lahir," jelas dr. Amelia.

Pengidap kutil kelamin mengeluhkan munculnya benjolan, keputihan, dan rasa gatal. Kutil bisa tumbuh di vulva, labia mayora dan labia minora, klitoris, lubang vagina, mulut rahim, dubur (jika melakukan anal seks), hingga bibir, lidah, dan tenggorokan (jika melakukan oral seks).

 

4. Pilihan pengobatannya bervariasi

Kutil kelamin bisa diobati dengan berbagai cara. Mulai dari topikal (oles) menggunakan cairan kimia khusus, bedah listrik, bedah laser, operasi kecil untuk mengangkat jaringan, dan lainnya.

"Pengobatan bergantung pada seberapa luas dan keparahan genital warts, (letaknya) di dalam atau di luar vagina, apakah ada penyakit penyerta atau komorbid, dan apakah pasien sedang hamil," tutur dr. Amelia.

 

5. Kondom dan vaksin HPV bisa mencegah, walau tidak 100 persen

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Salah satunya adalah setia pada pasangan, tidak bergonta-ganti partner seksual. Selain itu, gunakan kondom untuk menurunkan risiko terkena kutil kelamin, walau ini tidak melindungi 100 persen.

"Vaksin HPV adalah salah satu pencegahan. Tujuannya untuk menurunkan risiko kanker serviks karena HPV risiko tinggi. Bisa juga untuk mengurangi kekambuhan genital warts. Tapi genital warts-nya harus bersih dulu. Setelah kontrol ulang 2-3 kali, baru bisa diberikan vaksinnya," ujar dr. Amelia.

Vaksin bisa diberikan sejak dini. Idealnya adalah sejak kelas 5–6 SD. Mengapa anak SD, bukan remaja atau dewasa? Karena lebih efektif kalau diberikan sebelum menstruasi pertama. Diharapkan ketika sudah berhubungan seks, risiko kanker serviks menjadi lebih rendah.

Jangan lupa lakukan pemeriksaan mandiri. Raba area kemaluan, apakah ada benjolan, gatal, atau keputihan? Supaya lebih jelas, cukur rambut kemaluan terlebih dahulu dan gunakan cermin untuk melihat.

"Kita harus lebih aware dan proaktif. Kalau ada keluhan, bisa langsung memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit dan kelamin," ia memberi saran.

 

 

SUMBER :

LINK: https://www.idntimes.com/health/sex/nena-zakiah-1/cegah-kutil-kelamin-dengan-kondom-danvaksin-hpv 

Kontak Informasi

Jl. KH.Moh.Mansyur No.205, RT.1/RW.1, Krendang, Tambora, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11250.

Telepon (021) 63855777

WhatsApp 08112777549

Fax (021) 63855778

Email Infodok@pramudia.co.id

Jam Buka Klinik

Senin - Jumat :
11.00 - 19.00
Sabtu :
11.00 - 19.00
Minggu :
TUTUP