KULIT LANSIA GATAL DAN KERING, BOLEHKAH DIGARUK? INI KATA DOKTER.

JawaPos.com - Kulit lansia umumnya cenderung kering karena produksi kolagen serta hormon yang sudah berkurang. Karena kering, maka mereka rentan mengalami pruritus atau gatal akibat kulit kering.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Klinik Pramudia dr. Yustin Sumito, Sp.KK, menjelaskan pruritus kerap dialami lansia. Dalam bahasa awam lebih dikenal dengan istilah 'gatal' yang didefinisikan sebagai sensasi tidak menyenangkan pada kulit yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk.

Saat sudah terlalu gatal, lansia umumnya sering tak bisa tidur. Keinginan menggaruk pun tak bisa dicegah. Bolehkah digaruk?

"Secara umum, pruritus sebenarnya bisa dikatakan sebagai gejala dari berbagai penyakit kulit tertentu, dan tidak semuanya menular, tergantung dari penyakit yang mendasari. Pruritus yang menular adalah pruritus yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur. Tingkat kesembuhan pasien pruritus sendiri juga bergantung pada penyakit yang mendasari, yang penting harus benar dalam pemilihan tatalaksana untuk pruritus," kata dr. Yustin secara virtual, Kamis (3/11).

"Kalau digaruk, berisiko menimbulkan infeksi akibat keinginan untuk menggaruk," tuturnya.

Ia menambahkan, di Indonesia sendiri, lansia didefinisikan sebagai penduduk berusia 60 tahun ke atas, di mana populasinya diketahui sebesar 10;82 perseb pada tahun 2021, dan diperkirakan akan terus meningkat (2-3 persen per 5 tahun).

Salah satu faktor risiko pruritus adalah mereka yang berusia 65 tahun ke atas. Dengan semakin besarnya populasi lansia di Indonesia, tentu risiko pruritus pun semakin besar.

Selain karena usia, seseorang bisa tambah berisiko mengalami pruritus jika memiliki alergi memiliki kondisi penyakit lain seperti eksim, psoriasis, dan diabetes, sedang hamil, ataupun mereka yang sedang menjalani dialisis. Lansia harus memahami proses terjadinya pruritus dengan melalui 3 tahap.


Tahap 1

Pertama, hilangnya fungsi barrier (pelindung atau pembatas) kulit yang menyebabkan turunnya fungsi repair pada kulit

Tahap 2

Kedua, immunosenescence atau penurunan kerja sistem imun atau sistem perlindungan tubuh

Tahap 3

Ketiga, neuropati atau abnormalitas sistem saraf, dimana pruritus cenderung lebih sering mengalami kekambuhan.

Pentingnya Deteksi Dini

Oleh sebab itu, diagnosis dan tatalaksana yang tepat sangat dibutuhkan untuk lansia yang mengalami pruritus. Deteksi dini pruritus dilakukan melalui anamnesis (menanyakan riwayat pasien), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang secara menyeluruh. Derajat keparahan gatal ada pada skala 1-10. Bila derajat keparahan di atas 6, gatal dirasakan hingga pasien terbangun dari tidur, maka sudah terjadi gangguan kualitas hidup secara bermakna, sehingga tatalaksana agresif dibutuhkan.

Tatalaksana pertama yang dilakukan tentu dengan menjaga kelembaban kulit. Misalnya dengan metode soak-and-smear (rendam kulit selama 10-20 menit di dalam air) dan metode wet wraps (perban atau kain basah yang dibalut dengan krim tertentu). Namun perlu diingat bahwa pengobatan pruritus dan xerosis yang benar dan tuntas tidak sesederhana memakai krim pelembab.

"Oleh sebab itu jika masih belum sembuh dan berlanjut dalam waktu yang terlalu lama, maka pengobatan dari dokter SpKK tentu diperlukan,” kata dr. Yustin.

 

SUMBER :

LINK: https://www.jawapos.com/kesehatan/03/11/2022/kulit-lansia-gatal-dan-kering-bolehkah-digaruk-inikata-dokter/  

Kontak Informasi

Jl. KH.Moh.Mansyur No.205, RT.1/RW.1, Krendang, Tambora, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11250.

Telepon (021) 63855777

WhatsApp 08112777549

Fax (021) 63855778

Email Infodok@pramudia.co.id

Jam Buka Klinik

Senin - Jumat :
11.00 - 19.00
Sabtu :
11.00 - 19.00
Minggu :
TUTUP