MENGENAL PRURITUS, KULIT GATAL YANG KERAP DIALAMI LANSIA

Jakarta: Keluhan gatal pada kulit saat berumur lanjut usia (Lansia) seringkali dialami oleh banyak orang di atas umur 60 tahun. Penyakit gatal ini seringkali disebut dengan pruritus.

Pruritus sendiri merupakan sensasi tidak menyenangkan pada kulit yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk. Penyakit ini umum terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, karena kulit cenderung menjadi lebih kering seiring bertambahnya usia.
 

Penyebab


Berdasarkan penyebabnya, pruritus dapat terlihat di kulit penderitanya dalam bentuk yang mungkin normal, merah, kasar atau muncul benjolan. Hal ini membuat penderitanya cenderung menggaruk, namun menggaruk terus-menerus dapat menyebabkan area kulit yang tebal terangkat dan mungkin berdarah atau terinfeksi.

Pruritus sendiri bisa menjadi kronis jika gatal berlanjut selama enam minggu atau lebih. Secara umum, pruritus sebenarnya bisa dikatakan sebagai gejala dari berbagai penyakit kulit tertentu, dan tidak semuanya menular, tergantung dari penyakit yang mendasari. Pada umumnya, pruritus diklasifikan menjadi tiga kelompok:

1. Kelainan kulit primer atau kelainan kulit spesifik.

2. Tanpa kelainan kulit spesifik (penyakit penyerta lain, seperti metabolik atau infeksi dan kelainan saraf).

3. Pruritus pada kelainan kulit sekunder (contoh: prurigo nodularis dan liken simpleks).

Terkait faktor risiko, selain karena usia, seseorang bisa tambah berisiko mengalami pruritus jika memiliki alergi; memiliki kondisi penyakit lain seperti eksim, psoriasis, dan diabetes; sedang hamil; ataupun mereka yang sedang menjalani dialisis.
 

Tiga proses terkait penuaan


"Pada kasus lansia, ada 3 proses utama terkait penuaan yang berhubungan dengan terjadinya pruritus. Pertama, hilangnya fungsi barrier (pelindung atau pembatas) kulit yang menyebabkan turunnya fungsi repair pada kulit," jelas dr. Yustin Sumito, Sp.KK. dalam bincang virtual, Kamis, 3 November 2022.

"Kedua, immunosenescence atau penurunan kerja sistem imun atau sistem perlindungan tubuh. Ketiga, neuropati atau abnormalitas sistem saraf, dimana pruritus cenderung lebih sering mengalami kekambuhan,” sambungnya.

Oleh sebab itu, diagnosis dan tatalaksana yang tepat sangat dibutuhkan untuk lansia yang mengalami pruritus. Deteksi dini pruritus dilakukan melalui anamnesis (menanyakan riwayat pasien), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang secara menyeluruh.

Derajat keparahan gatal ada pada skala 1-10. Bila derajat keparahan di atas 6, gatal dirasakan hingga pasien terbangun dari tidur, maka sudah terjadi gangguan kualitas hidup secara bermakna, sehingga tatalaksana agresif dibutuhkan.
 

Cara mengatasinya


Tatalaksana pertama yang dilakukan adalah wajib menjaga kelembaban kulit. Seperti dengan metode soak-and-smear atau berendam kulit selama 10-20 menit di dalam air dan juga metode wet wraps atau menggunakan perban atau kain basah yang dibalut dengan krim tertentu lalu ditempelkan ke kulit.

“Namun perlu diingat bahwa pengobatan pruritus dan xerosis yang benar dan tuntas tidak sesederhana memakai krim pelembap. Oleh sebab itu jika masih belum sembuh dan berlanjut dalam waktu yang terlalu lama, maka pengobatan dari dokter SpKK tentu diperlukan,” pungkas dr. Yustin.

Aulia Putriningtias

Kontak Informasi

Jl. KH.Moh.Mansyur No.205, RT.1/RW.1, Krendang, Tambora, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11250.

Telepon (021) 63855777

WhatsApp 08112777549

Fax (021) 63855778

Email Infodok@pramudia.co.id

Jam Buka Klinik

Senin - Jumat :
11.00 - 19.00
Sabtu :
11.00 - 19.00
Minggu :
TUTUP